Monday, September 17, 2018

Assassins Creed : Kekeliruan Kredo Assassin


Baru aja beberapa bulan lalu namatin Assassins Creed Origins, eh Assassins Creed Oddysey udah keluar aje.Emang begitu nasib maen bajakan, mesti nunggu crack-annya keluar yang kadang-kadang bisa hampir setahun baru nongol. Ya gapapa yang penting maen gratisan. Gw hype banget sama AC Oddysey karena setting sejarah yang bakal dipake adalah jaman Yunani kuno. Lebih tepatnya di jaman perang Pelopponesian, perang antara Sparta dan Athena. Yang paling gw ga sabar adalah disitu kita bakal ketemu sama bapake filsafat modern, Sokrates. Disamping itu, AC Oddysey sepertinya akan mengalami perubahan haluan. AC Oddysey tidak lagi terlalu terpatok untuk menampilkan sejarah akurat melainkan akan berfokus pada elemen mitologis  seperti The First Civilization, makhluk-makhluk mitologis (medusa, chimera, etc). Aduh gw hype banget! Oleh karena itu kali ini gw memutuskan untuk membahas salah satu masterpiece video game franchise yang pernah ada, Assassins Creed.

Assassins Creed bisa dibilang adalah magnum opusnya Ubisoft. Seri yang diciptakan oleh Patrice Desilets dan Jade Raymond ditahun 2007 ini memiliki keunikan khusus dibanding game-game lain. Dengan menggunakan teknologi yang bernama Animus, kita diajak melihat hasil rekonstruksi sejarah dalam bentuk pixel. Mulai dari jaman Mesir kuno jaman Ptolemy


Italia pada jaman Rennaisance


Perancis pada jaman revolusi Perancis 


sampe Victorian London pada jaman revolusi Industri. 


Tahun ini di Assassins Creed Oddysey kita akan diajak jalan-jalan mengelilingi tempat-tempat pada jaman Yunani kuno seperti pulau Kephallonia, Semenanjung Attika, pulau Arid, Peloponnesia, etc. Maklum yang bikin pada doyan sejarah semua.

Bagi yang belum familiar, Assassins Creed bercerita tentang konflik turun-temurun antara Assassins Brotherhood dengan Templar Order. Intinya Assassins berjuang mepertahankan kebebasan (free will) sedangkan Templar memiliki tujuan untuk mengontrol dan memperbudak manusia. Masing-masing kubu berusaha untuk mencapai tujuan mereka dengan mencari Pieces of Eden, sekumpulan teknologi kuno yang super canggih dari The First Civilisation. Beberapa Pieces Of Eden diantaranya ada :


Apple of Eden


Stave of Eden
Sword of Eden
Shroud of Eden

Yang membuat gw sangat ‘nempel’ sama seri AC adalah karena game ini sangat filosofis. Seperti yang sudah gw sebutkan, para Assassins dan Templar di jaman modern sedang berlomba mencari teknologi canggih warisan The First Civilization. Bagaimana caranya? dengan menggunakan Dengan teknologi yang bernama Animus.


Dengan teknologi ini manusia mampu mengakses memori nenek moyang mereka yang tertanam di dalam DNA mereka dan mengijinkan penggunanya untuk mengalami langsung peristiwa dalam memori tersebut. Konsep ini diinsipirasi oleh konsep collective unconsciousness milik Carl Gustav Jung.


Carl Gustav Jung (1875-1961), seorang neoanalyst dari Jerman, menemukan bahwa di dalam alam ketidaksadaran tidak hanya terdapat memori dan insting individual melainkan juga terdapat insting dan memori yang sudah terakumulasi dari jaman nenek moyang kita. Jadi di dalam diri manusia tidak hanya memiliki memori personal tetapi juga memori nenek moyang mereka. Hal ini ia sebut sebagai ketidaksadaran kolektif (collective unconsciousness). Collective unconsciousness bermanifestasi dalam bentuk simbol-simbol universal dan primordial images yang muncul dalam setiap kebudayaan manusia di seluruh dunia, baik dalam agama maupun dalam mitos. Misalnya ada tema besar yang sama terdapat dalam tragedi Shakespeare ‘Oedipus Rex’ dan mitos Sangkuriang. Jung menyebut simbol-simbol tersebut dengan nama archetype. Menurut Jung, di dalam ketidaksadaran laki-laki dan perempuan terdapat karakteristik dari lawan jenis mereka. Maksudnya, di dalam diri laki-laki terdapat fitur-fitur dan karakteristik perempuan dan di dalam diri perempuan terdapat karakteristik dan fitur laki-laki. Karakteristik perempuan di dalam diri laki-laki disebut dengan archetype anima, sedangkan karakteristik laki-laki di dalam diri perempuan disebut animus. Ya benar! nama alat untuk mengakses memori nenek moyang di seri AC diambil dari nama Jungian archetype. Beberapa archetype lain dalam psikoanalisa Jung antaranya adalah archetype persona, shadow, the wise old man, the great mother, hero, the trickster dan the self.

Tapi dalam tulisan ini gw engga akan membahas archetype tapi gw mau mengalihkan pandangan kita ke filosofi AC yang terkenal. Fans AC pasti familiar banget sama kredonya Assassin : "Nothing is true, everything is permitted". Hal yang sangat disayangkan adalah franchise ini kebingungan dalam menafsirkan filosofi ini. Dalam game kita liat tiap-tiap assassin memiliki pengertian yang berbeda-beda terhadap kredo ini. Penafsiran Altair berbeda dengan Ezio, berbeda pula dengan Arno. 



Dalam game tidak terlihat motto tersebut berkembang menjadi sesuatu yang berarti. Pada akhirnya filosofi ini cuma menjadi lip service untuk memajukan plot.

Mungkin kalo kredonya ini masih masuk diakal.
Setelah gw research lebih dalam, gw menemukan bahwa hal ini tidak mengagetkan karena dari awal, franchise ini telah keliru dalam menafsirkan kredo "Nothing is true, everything is permitted". Kenapa bisa gw bilang keliru? jadi begini ceritanya. Alkisah ide awal Assassins Creed diinspirasi dari novel karangan Vladimir Bartol berjudul Alamut. Oke sebelum gw nulis lebih jauh, gw sangat sangat sangat sangat merekomendasi temen-temen untuk baca novel ini!!! (tuh sampe gw kasih tanda seru tiga). Selain memiliki karakter-karakter yang menarik, novel ini juga sangat deeply philosophical dan percayalah temen-temen akan mendapatkan pencerahan yang sangat luar biasa.


Oke kembali ke laptop. Jadi Novel Alamut bercerita tentang seorang pemimpin tertinggi sekte Isma'ilsm bernama Hasan Ibn Sabah yang tinggal di sebuah benteng super megah bernama Alamut.

Alamut, rusun bintang 5.


Hasan Ibn Sabbah.
Setting novel Alamut terjadi pada abad ke-11 saat kerajaan Seljuk dari Turki menginvasi Iran. Sebagai orang Iran yang patriotis, Hasan menghabiskan masa mudanya untuk merencanakan bagaimana bisa mengusir Turki dari Iran dan memperoleh kemerdekaan. Hasan adalah orang yang jenius dan tercerahkan. Ia sadar ia butuh tentara yang bukan hanya bisa dimanipulasi dan tidak takut mati, tapi malah mencari kematian dan menganggap kematian adalah hadiah terindah. Bagaimana caranya? Ia menggunakan ganja dan kepercayaan agama untuk memanipulasi pengikutnya. Ia menghabiskan masa mudanya untuk membangun mitos bahwa dirinya adalah nabi terakhir utusan tuhan dan telah diberi oleh tuhan kunci pintu surga. Usaha manipulasi ini ga tanggung-tanggung, Hasan bahkan sampai bikin replika taman surga di Alamut untuk lebih menjerumuskan pengikutnya supaya mereka bisa percaya tanpa keraguan bahwa ia adalah nabi tuhan dan memiliki kunci surga. Replika taman surga dibikin percis dengan deskripsi dari kitab Alquran dengan makanan, anggur dan tidak lupa bidadari-bidadarinya. Surga tanpa bidadari kaya sayur kurang gula gitu. Padahal bidadarinya ga lebih dari budak-budak perempuan yang dia beli di pasar dan udah dia latih bertahun-tahun untuk memerankan peran bidadari surga (pasar modern BSD jual ga ya bidadari surga?). Sebelum tentara-tentara bloonnya ditunjukin surga, Hasan selalu memberi mereka ganja untuk meng-alter kesadaran mereka supaya pengalaman yang mereka rasakan di "syuurga" bisa dibawa terus diluar. Dan bener aja! Tentara-tentara yang udah ngerasain "syurga" langsung jadi, bisa dikatakan, gila pas kembali ke dunia nyata. Mereka semua terobsesi berat dengan pengalaman mereka. Gw inget banget yang namanya Suleiman sampe mau merkosa rekan tentaranya gara-gara saking udah ga tahannya padahal rekannya itu laki-laki! Disturbing as shit!

Apa sih yang memotivasi Hasan untuk melakukan rencana yang sangat elaborasi itu? Pada masa mudanya, Hasan adalah orang yang taat beribadah dan seorang intelektual. Ia juga adalah orang yang haus akan pengetahuan dan kebenaran. Jadi dia menghabiskan masa mudanya untuk mempelajari Islam dan doktrin Ismaili. Namun, selama masa pencariannya tersebut ia menyadari bahwa tidak ada yang mampu memuaskan dahaganya akan kebenaran. Semua orang memiliki kepercayaan masing-masing dan memegang teguh kepercayaan mereka. Satu filsuf membangun argumen, kemudian diruntuhkan oleh filsuf lain. Tidak pernah terjadi kesepakatan. Ia menyadari bahwa sepertinya yang namanya kebenaran sejati tidak akan pernah didapatkan oleh manusia. Ini adalah pandangan filsafat yang benama Absurdism. Dalam buku the Myth of Sisyphus, Albert Camus mengatakan bahwa seberapa hebatnya manusia mencari makna hidup, namun hal itu tidak akan pernah dicapai manusia. Salah satu alasannya adalah karena panca indera manusia yang extremely unreliable, tidak dapat diandalkan. Setiap hari kita ditipu sama panca indera kita sendiri. Ilmu pengetahuan (science) hanya dapat mendeskripsikan eksistensi tapi tidak bisa menjelaskan alasan mengapa harus ada eksistensi.

Lalu apa selanjutnya setelah menyadari bahwa kebenaran sejati tidak akan pernah mampu dicapai manusia? Hasan berkata :

"If a person realized that everything people call happiness, love and joy was just a miscalculation based on a false premise, he'd feel a horrible emptiness inside. The only thing that could rouse him from his paralysis would be to gamble with his own fate and the fate of others. The person capable of that would be permitted anything".

Menurut Hasan agama pada hakikatnya adalah alat manipulasi masa yang paling canggih. Nabi seperti Musa, Yesus, dll menyadari kelemahan manusia dan merasa kasihan sehingga mereka harus menciptakan konsep-konsep seperti surga dan anugrah ilahi untuk memberi manusia ketenangan. Meaninglesness atau tidak bermaknaan eksistensi membuat Hasan jatuh kedalam moral nihilsm. Ia mengambil kesimpulan bahwa kalo segala sesuatu yang selama ini ia percaya sebagai kebenaran adalah kebohongan, maka satu-satunya yang bisa menyelamatkan dirinya dari existential despair adalah kebebasan untuk melakukan apa saja, termasuk memanipulasi orang lain untuk berperang dan mati untuk dirinya. Dari pencerahan inilah Hasan menciptakan mottonya yaitu : "If nothing is true, then everything is permitted".

Jadi nangkep ya sampe sini? Motto "Nothing is true, everything is permitted" digunakan Hasan Ibn Sabah untuk memanipulasi dan mengontrol orang lain untuk mencapai tujuan pribadinya. Bisa tebak siapa yang juga memiliki pikiran yang sama? Ya benar, Templar!. Dalam game, Assassins Brotherhood yang memiliki motto ini, mereka berjuang untuk kemerdekaan dan free will, sedangkan Templar ingin mencapai keteraturan dan kedamaian (peace and order) dengan cara kontrol dan manipulasi. So kredo "Nothing is true, everything is permitted" harusnya kredonya Templar bukan Assassins. Kalo Hasan menggunakan agama sebagai alat, Templar memakai posisi dalam politik dan korporasi. 


Dalam novel tersebut, Hasan digambarkan sebagai tokoh jahat (villain) dan figur tragis (tragic figure). Karena mottonya tersebut ia harus kehilangan orang-orang yang dicintainya dan bahkan ditakuti oleh pengikut-pengikutnya. Inilah yang membuat kredo ini ga masuk akal dalam konteks franchise AC. Assassins Brotherhood kan digambarkan sebagai "hero" dalam franchise AC tapi kenapa prinsip yang mereka pegang diinspirasi dari tokoh jahat yang prinsipnya sama sekali bertentangan sama prinsip Assassins Brotherhood? Situ pusing? sama gw juga pusing.

Kalo gitu kenapa kita asik-asik aja maen Assassins Creed tapi benci sama filmnya. Jawaban terbaik yang bisa gw kasih adalah karena perbedaan agency dari video game dan film. Dalam video game, elemen terpenting adalah gameplay. Game kayak Counter Strike, PUBG, dll asik-asik aja dimainin walaupun ga ada jalan cerita sama sekali. Beda ceritanya salam film. Elemen terpenting film adalah jalan cerita. Jalan cerita dibangun dari unsur-unsur seperti character development dan konflik. Dalam film Assassins Creed tidak terlihat motif yang jelas kenapa Assassins harus berantem sama Templar. Kenapa kita harus menganggap Assassins adalah tokoh baik sedangkan Templar adalah tokoh jahat. Motto "Nothing is true, everything is permitted" sama sekali tidak membantu untuk menjawab hal ini dalam film.

Atau mungkin Ubisoft ingin secara implicit mengatakan bahwa Assassins tidak jauh beda dengan Templar? Bisa aja. Di ending Assassins Creed pertama, terungkap bahwa Al-Mualim, pemimpin tertinggi Assassins Brotherhood di Masyaf, hanya memanfaatkan Altair dan kredo Assassins untuk memperoleh Apple of Eden. Di Assassins Creed Rogue, kita melihat bagaimana para Assassin rela mengorbankan nyawa rakyat sipil dalam jumlah cukup besar demi mendapatkan salah satu artifak Pieces of Eden. Hal ini memotivasi Shay Patrick Cormack untuk mengkhianati Assassins dan bergabung dengan Templar. Seakan-akan Templar dan Assassins adalah dua boneka yang dikendalikan oleh satu orang. Dua organisasi ini tanpa sadar memegang kredo yang sama : "If nothing is true, then everything is permitted". 

Bagaimana menurut temen-temen? punya pendapat lain. Silahkan temen-temen bagikan pendapat temen-temen dikolom komentar dan sekali lagi please banget baca novel Alamut karangan Vladimir Bartol, gw jamin temen-temen ga bakal nyesel. Terimakasih buat temen-temen yang udah meluangkan waktu buat baca tulisan ini. Semoga bermanfaat.

No comments:

Post a Comment

Assassins Creed : Kekeliruan Kredo Assassin

Baru aja beberapa bulan lalu namatin Assassins Creed Origins, eh Assassins Creed Oddysey udah keluar aje.Emang begitu nasib maen bajak...